Kamis, 09 November 2017
1.Cut Nyak Dhien
Cut Nyak Dhien adalah salah
satu pahlawan nasional wanita Indonesia yang lahir pada Selasa, 0-1-1848
di Lampadang, Aceh. Cut Nyak Dhien berasal dari keluarga bangsawan yang agamis
yang merupakan keturunan langsung Sultan Aceh, yaitu Teuku Nanta Seutia,
seorang uleebalang VI Mukim.Pada usia 12 tahun, yakni tahun 1862 ia dinikahkan oleh
orangtuanya dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga, putra dari uleebalang Lamnga XIII
dan mereka memiliki satu anak laki-laki.
Contoh Kasus :
Pada 26 Maret 1873, Belanda menyatakan perang kepada Aceh dan
mulai melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh. Pada 8 April 1873, Belanda
menguasai Masjid Raya Baiturrahman serta membakarnya dan daerah VI Mukim
berhasil di duduki Belanda yang akhirnya membuat suaminya, Teuku
Ibrahim bertempur untuk merebut daerah VI Mukim.
Namun sayangnya Teuku Ibrahim gugur dalam perang di Gle
Tarum, 29 Juni 1878, hal ini membuat Cut Nyak Dhien marah dan bersumpah
akan menghancurkan Belanda dan melanjutkan perjuangan suaminya untuk memimpin
perang. Setelah Cut Nyak Dhien menjanda, Teuku Umar salah satu pejuang Aceh
meminangnya untuk dijadikan istri sekaligus rekan perjuangan karena sangat
kagum dengan semangat Cut Nyak Dhien, mereka menikah pada tahun 1880 dan
memiliki anak yang diberi nama Cut Gambang.
Bersama Teuku Umar, Cut Nyak Dhien membangun
kembali kekuatan dan meningkatkan moral semangat perjuangan Aceh melawan
Belanda di sejumlah tempat, mereka berdua merupakan pasangan suami istri yang
berbahaya bagi kekuasaan Belanda di Aceh.
Namun takdir berkata lain, pada 11 Februari 1899 Teuku Umar
ditemukan gugur dalam perperangan dan membuat pasukan Cut Nyak Dhien semakin
melemah karena mendapatkan tekanan terus menerus dari Belanda. Ditambah lagi
kondisi fisik dan kesehatan Cut Nyak Dhien terus menurun sampai akhirnya
Belanda berhasil menangkapnya di Beutong Le Sageu. Untuk menghindari pengaruh
Cut Nyak Dhien pada Aceh, Belanda mengasingkannya ke Sumedang.
2. Cut Nyak Meutia
Cut Nyak Meutia adalah
pahlawan nasional dari Aceh yang lahir di Keureutoe, Pirak, Aceh Utara 1870. Ia
terkenal sebagai wanita yang mempunyai semangat juang tinggi dan tekad yang
kuat untuk mengusir penjajah.
Contoh Kasus :
Cut Nyak Meutia melawan Belanda bersama suaminya, yaitu Teuku Muhammad atau lebih dikenal dengan Teuku Tjik Tunong. Mereka merupakan suami-istri sekaligus rekan perjuangan yang solid untuk melawan Belanda. Sampai akhirnya pada Maret 1905, Teuku Tjik Tunong ditangkap oleh pihak Belanda dan dijatuhkan hukuman mati di tepi pantai Lhokseumawe. Sebelum meninggal, ia menitipkan pesan kepada sahabatnya Pang Nagroe untuk menikahi istrinya dan merawat anaknya.
Sesuai pesan almarhum suaminya, Cut Nyak Meutia pun menikah dengan Pang Nagroe dan bergabung bersama pasukan pimpinan Teuku Muda Gantoe untuk melawan Belanda. Namun sayangnya, pada 26 September 1910 Pang Nagroe gugur dalam peperangan melawan Korps Marechausee di Paya Cicem. Cut Nyak Meutia berhasil selamat bersama para wanita lainnya dan melarikan diri ke dalam hutan.
3. Raden Dewi Sartika
Raden Dewi Sartika, adalah salah satu tokoh perintis pendidikan bagi kaum wanita. Beliau lahir di Bandung, 4 Desember 1884 dari pasangan Raden Somanegara dan Raden Ayu Permas.
Contoh Kasus
:
Ia memulai perjuangannya sejak usia 18 tahun dengan mengajarkan
membaca, menulis, memasak dan menjahit bagi perempuan-perempuan di kotanya.
Pada 16 Juli 1904, Raden Dewi Sartika mendirikan Sakola Istri atau Sakola
Perempuan. Di tahun 1904, Sakola Istri dirubah namanya menjadi Sakola Keutamaan
Istri dan pada tahun 1929, Sakola tersebut berganti nama lagi menjadi Sakola
Raden Dewi.
Selain tersebar di kota kabupaten
Pasundan, Sekolah Raden Dewi menyebar pula ke luar pulau Jawa. Dewi Sartika
berusaha keras untuk mendidik anak-anak perempuar agar kelak bisa menjadi ibu
rumah tangga yang baik, cerdas, luwes, terampil dan kelak mampu berdiri
sendiri. Untuk menutupi biaya operasional sekolah, Dewi Sartika berusaha
mencari sumbangan dana dan tambah lagi banyak pihak yang mendukung
perjuangannya, terutama suaminya yaitu Raden Kanduruan Agah Suriawinata.
Nama Dewi Kartika dikenal luas oleh
masyarakat sebagai pendidik, terutama di kalangan perempuan. Pada tanggal 16
Januari 1939, pemerintah Hindia Belanda memberikan bintang jasa kepada Dewi
Sartika atas jasanya telah memajukan pendidikan kaum perempuan.
4. Tuanku Imam Bonjol
Nama sesungguhnya adalah Muhammad Syahab. Semasa
remaja , ia biasa dipanggil dengan nama Peto Syarif. Pada saat remaja
biasa di panggil Malim Basa. Tahun 1807 Malim Basa mendirikan Benteng di kaki
bukit Tajadi yang kemudian diberi nama Imam Bonjol. Sejak saat itu ia dikenal
dengan nama Tuanku Imam Bonjol. Tuanku Imam Bonjol wafat karena adanya Perang
Paderi.
Contoh Kasus
:
Setelah berakhirnya perang Diponegoro, Belanda kembali
menyerang Markas-markas Tuanku Imam Bonjol. Namun Tuanku Imam Bonjol adalah
panglima perang yang handal sehingga membuat Belanda harus mengerahkan bantuan
tambahan dan siasat-siasat licik.
Sehingga untuk menangkap Tuanku Imam Bonjol, Belanda
menggunakan cara-cara kotor dengan cara mengajak berunding di sekitar Bukit
Gadang dan Tujuh Lurah. Dan disitu pulalah Tuanku Imam Bonjol ditangkap pada
tanggal 25 Oktober 1937.
Tuanku Imam Bonjol lalu ditawan di Bukit Tinggi lalu
diasingkan dari Cianjur lalu ke Ambon dan terakhir di Manado. Tuanku Imam
Bonjolakhirnya wafat di Manado pada tanggal 8 November 1864.
Pemerintah lalu menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepadanya berdasarkan SK Presiden RI No 087/TK/1973.
Pemerintah lalu menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepadanya berdasarkan SK Presiden RI No 087/TK/1973.
5. Sultan Hasanuddin
Karena keberaniannya , Sultan Hasanudin
mendapat julukan "Ayam Jantan dari Timur". Julukan ini justru
diberikan oleh lawannya yaitu Belanda, karena merasakan bahwa perang dan
perlawanan Sultan Hasanaudin adalah perlawanan yang paling dahsyat yang
dirasakan Belanda dibandingkan perang-perang yang lain.
Sultan Hasanudin naik tahta sebagai raja Gowa ke-16 menggantikan Sultan Muhammad Said. Meskipun sebenarnya bukan putra mahkota, namun pengalaman dan kemampuannya yang luas ditunjuk oleh Sultan Muhammad Said menggantikan dirinya setelah wafat.
Sultan Hasanudin naik tahta sebagai raja Gowa ke-16 menggantikan Sultan Muhammad Said. Meskipun sebenarnya bukan putra mahkota, namun pengalaman dan kemampuannya yang luas ditunjuk oleh Sultan Muhammad Said menggantikan dirinya setelah wafat.
Contoh Kasus
:
Karena tidak mau tunduk terhadap pemerintah
kolonialis Belanda yang berpusat di Batavia, Sultan Hasanudin berkali-kali
mendapat serangan dari pasukan Belanda yaitu penyerangan yang pertama terjadi
pada tahun1660, kedua terjadi tahun 1666, ketiga tahun 1667 dan keempat pada
tahun1669. Perang yang dilakukan oleh Sultan Hasanudin bukan semata-mata untuk
mempertahankan tanah air atau mengusir kaum imperialis, namun juga membantu
rakyat di luar kerajaannya yang mengalami tindakan kejam yang dilakukan oleh
Belanda. Dalam hal ini, pada bulan Maret 1645 Sultan Hasanudin mengirimkan
armada yang kuat terdiri dari 100 perahu untuk membantu rakyat Maluku
mengadakan perlawanan terhadap kekejaman Belanda yang dikenal dalam sejarah
sebagai "Perang Hongi". Meskipun
pada masa pemerintahannya berulang kali terjadi peperangan, namun Sultan
Hasanuddin bukanlah sosok pemimpin yang suka kekerasan dan haus perang. Sifat
humanismenya sebagai raja besar nampak pada kesediaannya untuk menerima
Perjanjian Bungaya pada tanggal 18 November 1667.
Dengan menerima perjanjian tersebut Sultan
Hasanudin dapat mencegah banyaknya korban jatuh di kedua belah pihak, apalagi
ternyata pasukannya harus berhadapan dengan bangsa sendiri yaitu Tidore,
Ternate, Buton dan Bone yang membantu Belanda. Penghentian sementara perang ini
juga merupakan strategi Sultan Hasanudin untuk mengatur nafas sebelum
menghadapiperangselanjutnya.
Sultan Hasanudin wafat pada tanggal 12 Juni 1670 dalam usia yang relatif muda yakni 39 tahun. Dalam usianya yang pendek banyak hal yang telah dikerjakannya, atas jasanya diberikan penghargaan sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah RI pada tahun 1973.
Sultan Hasanudin wafat pada tanggal 12 Juni 1670 dalam usia yang relatif muda yakni 39 tahun. Dalam usianya yang pendek banyak hal yang telah dikerjakannya, atas jasanya diberikan penghargaan sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah RI pada tahun 1973.
6. Teuku Umar
Ia merupakan salah seorang pahlawan nasional yang pernah
memimpin perang gerilya di Aceh sejak tahun 1873 hingga tahun 1899. Kakek Teuku
Umar adalah keturunan Minangkabau, yaitu Datuk Makdum Sati yang pernah berjasa
terhadap Sultan Aceh. Ketika perang aceh meletus pada 1873 Teuku Umar ikut
serta berjuang bersama pejuang-pejuang Aceh lainnya, padahal umurnya baru
menginjak19 tahun. Mulanya ia berjuang di kampungnya sendiri yang kemudian
dilanjukan ke Aceh Barat. Pada umur ini, Teuku Umar juga sudah diangkat sebagai
keuchik (kepala desa) di daerah Daya Meulaboh.
Contoh Kasus
:
Ketika perang aceh meletus pada 1873 Teuku Umar ikut
serta berjuang bersama pejuang-pejuang Aceh lainnya, padahal umurnya baru
menginjak19 tahun. Mulanya ia berjuang di kampungnya sendiri yang kemudian
dilanjukan ke Aceh Barat. Pada umur ini, Teuku Umar juga sudah diangkat sebagai
keuchik (kepala desa) di daerah Daya Meulaboh.
Kemudian Teuku Umar menikah dengan Cut Nyak Dien,
sebelemnya Cut Nyak Dien sudah memiliki suami, tetapi meninggal dunia, kemudia
ia menikah dengan Cut Nyak Dien. Kemudian mereka berdua melakukan serangan
terhadap pos-pos Belanda di Krueng.
Belanda sempat berdamai dengan pasukan Teuku Umar pada
tahun 1883. Satu tahun kemudian (tahun 1884) pecah kembali perang di antara
keduanya. Pada tahun 1893, Teuku Umar kemudian mencari strategi bagaimana
dirinya dapat memperoleh senjata dari pihak musuh (Belanda). Akhirnya, Teuku
Umar berpura-pura menjadi antek (kaki tangan) Belanda. Istrinya, Cut Nyak Dien
pernah sempat bingung, malu, dan marah atas keputusan suaminya itu. Gubernur
Van Teijn pada saat itu juga bermaksud memanfaatkan Teuku Umar sebagai cara
untuk merebut hati rakyat Aceh. Teuku Umar kemudian masuk dinas militer. Atas
keterlibatan tersebut, pada 1 Januari 1894, Teuku Umar sempat dianugerahi gelar
Johan Pahlawan dan diizinkan untuk membentuk legium pasukan sendiri yang
berjumlah 250 tentara dengan senjata lengkap.
Saat bergabung dengan Belanda, Teuku Umar sebenarnya
pernah menundukkan pos-pos pertahanan Aceh. Peperangan tersebut dilakukan Teuku
Umar secara pura-pura. Sebab, sebelumnya Teuku Umar telah memberitahukan
terlebih dahulu kepada para pejuang Aceh.
Sebagai kompensasi atas keberhasilannya itu, pemintaan
Teuku Umar untuk menambah 17 orang panglima dan 120 orang prajurit, termasuk
seorang Pangleot sebagai tangan kanannya akhirnya dikabulkan oleh Gubernur
Deykerhorf yang menggantikan Gubernur Ban Teijn.
Pada tanggal 30 Maret 1896, Teuku Umar kemudian keluar
dari dinas militer Belanda dengan membawa pasukannya beserta 800 pucuk senjata,
25.000 butir peluru, 500 kg amunisi, dan uang 18.000 dollar. Dengan kekuatan
yang semakin bertambah, Teuku Umar bersama 15 orang berbalik kembali membela
rakyat Aceh. Siasat dan strategi perang yang amat lihai tersebut dimaksudkan
untuk mengelabuhi kekuatan Belanda pada saat itu yang amat kuat dan sangat
sukar ditaklukkan. Pada saat itu, perjuangan Teuku Umar mendapat dukungan dari
Teuku Panglima Polem Muhammad Daud yang bersama 400 orang ikut menghadapi
serangan Belanda. Dalam pertempuran tersebut, sebanyak 25 orang tewas dan 190
orang luka-luka di pihak Belanda.
Gubernur Deykerhorf merasa tersakiti dengan siasat
yang dilakukan Teuku Umar. Van Heutsz diperintahkan agar mengerahkan pasukan
secara besar-besaran untuk menangkap Teuku Umar. Serangan secara mendadak ke
daerah Melaboh menyebabkan Teuku Umar tertembak dan gugur dalam medan perang,
yaitu di Kampung Mugo, pedalaman Meulaboh pada tanggal10 Februari 1899.
Berdasarkan SK Presiden No. 087/TK/1973 tanggal 6
November 1973, Teuku Umar dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Nama Teuku Umar
juga diabadikan sebagai nama jalan di sejumlah daerah di tanah air, salah
satunya yang terkenal adalah terletak di Menteng, Jakarta Pusat. Selain itu,
namanya juga diabadikan sebagai nama sebuah lapangan di Meulaboh, Aceh Barat.
Sumber :





